PRAMBANAN JAZZ DAN GELIAT EKONOMI DAERAH


Oleh : Anas Syahrul Alimi
(Founder Prambanan Jazz & CEO Rajawali Indonesia Communication)


 

Harapan adalah mimpi dari seorang yang terjaga

Aristoteles

 

Sejatinya, pernyataan dari filusuf Yunani itulah yang telah menjadi bahan bakar bagi penyelenggaraan Prambanan Jazz Festival setiap tahunnya. Tahun ini, Prambanan Jazz akan memasuki penyelenggaraan kali ketiga secara berturut-turut. Tanpa terselip harapan, musykil rasanya untuk bisa menghajat festival semacam ini.

Secara ideal, Prambanan Jazz Festival hadir untuk memperkenalkan kearifan budaya lokal ke pentas global. Melalui Prambanan Jazz Festival, musik dipilih sebagai bahasa universal untuk menyampaikan beragam pesan positif agar disemai serta didesiminasikan ke berbagai pihak dan tempat.

Tapi di balik idealisme untuk memperkenalkan kearifan budaya lokal (local culture) tadi, sesungguhnya terselip pula unsur ekonomi yang tak bisa disepelekan. Data dari penyelenggaraan Prambanan Jazz setahun silam, dari 20 ribu tiket yang terjual, sekitar 60 persen diantaranya berasal dari para pengunjung luar Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Jumlah penonton dari luar kawasan ini tentunya menjadi potensi ekonomi yang baik buat daerah. Andai saja setiap pengunjung itu melakukan spend money mencapai Rp 10 juta maka selama tiga hari penyelenggaraan festival akan ada perputaran uang hingga Rp 120 miliar di wilayah Yogyakarta maupun Jawa Tengah dan sekitarnya. Aksi spend money itu bisa dilakukan melalui hunian kamar hotel, belanja merchandise, tiket pertunjukkan hingga kuliner lokal.

Sementara asumsi Rp 120 miliar itu berasal dari estimasi 60 persen pengunjung, yakni sekitar 12 ribu orang. Inilah kontribusi nyata dari sebuah hajatan musik dalam menstimulasi perekonomian lokal. Artinya, pemerintah daerah tak boleh menutup mata, apalagi bersikap acuh.

Untuk memancing datangnya pengunjung tentunya diperlukan magnet yang kuat. Dalam hal ini, magnet yang diberikan berupa line-up artist. Inilah yang menjadi daya tawar dari setiap kali penyelenggaraan Prambanan Jazz. Hampir dalam setiap kali penyelenggaraannya, selalu saja hadir musisi-musisi terbaik dari level mancanegara.

Pada tahun pertama penyelenggaraan, musisi mancanegara yang didatangkan ada Kenny G. Setahun berikutnya tampil menghibur Boyz II Men dan Rick Price. Untuk tahun ini, peraih nominasi Grammy Awards Sarah Brightman dijadikan sebagai penampil utama (headliner artist). Deretan musisi internasional ini kemudian diracik dengan performance dari musisi-musisi terbaik domestik.

Namun demikian, harus diakui, kekuatan utama dari Prambanan Jazz ini tak hanya terletak pada line-up artist-nya saja. Festival ini justru menjadikan kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia yang dibangun pada abad ke-9 masehi ini sebagai magnet utama. Hadirnya festival musik ini bisa dibilang menjadi hiburan pelengkap dari eksotisme destinasi wisata yang ada di wilayah Yogayakarta dan sekitarnya ini.

Tanpa hendak membusungkan dada, gelaran Prambanan Jazz ini sesungguhnya juga menjadi upaya kreatif dalam ‘menjual’ produk destinasi wisata yang ada di kawasan Yogyakarta dan sekitarnya ini. Rasanya, kalau hanya semata-mata mengandalkan line-up artist, harus diakui bahwa line-up artist Prambanan Jazz ini masih kalah pamor dibandingkan dengan penyelenggaraan Java Jazz yang sudah mapan di Jakarta.

Tapi kekuatan Prambanan Jazz inilah yang tidak dimiliki oleh daerah dan festival sejenis lainnya. Kekuatan local culture dan local wisdom yang berpadu dengan pop culture menjadi racikan unik dalam setiap kali penyelenggaraan Prambanan Jazz. Untuk itulah selalu dibutuhkan pemikiran-pemikiran out of the box untuk memanfaatkan potensi lokal guna menggenjot perekonomian daerah.

 

Menghidupkan Sektor Pariwisata

Deretan potensi yang tersaji dari penyelenggaraan Prambanan Jazz ini sesungguhnya menjadi salah satu bagian dalam mendukung upaya menggeliatkan sektor pariwisata yang ada di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Merujuk pada hasil laporan pertumbuhan ekonomi Yogyakarta 2016 yang dirilis oleh Bank Indonesia (BI), sektor pariwisata tercatat sebagai tulang punggung perekonomian Yogyakarta sepanjang 2016. Sektor ini memberikan kontribusi peran sebesar 35 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar Rp 110,1 triliun.

Tentunya, sektor pariwisata ini tumbuh dengan semakin membaiknya perekonomian domestik maupun global. Dari kancah domestik, sinyal itu semakin jelas terlihat dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang kian membaik di sepanjang 2016.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang tahun kemarin menembus 5,02 persen atau meningkat dibandingkan kuartal I-2016 yang hanya berada di level 4,92 persen. Hal yang tak jauh berbeda juga terlihat di pentas global. Dalam laporan Prospek Ekonomi Global yang dirilis oleh Bank Dunia tahun ini memperlihatkan laju pertumbuhan perekonomian global tahun ini yang lebih cepat dari perkiraan pertumbuhan 2,3 persen pada 2016.

Melihat tren pertumbuhan ekonomi tersebut, inilah peluang untuk bisa turut mengenyam buah-buah pertumbuhan ekonomi ke daerah. Untuk memaksimalkannya, rasanya kita perlu berkaca pada keberhasilan Korea Selatan. Negeri Ginseng itu mampu menstimulasikan pertumbuhan ekonomi melalui sektor pariwisata yang di-bundling dengan potensi kearifan lokal yang dikenal dengan Korean Wave. Tanpa hendak menduplikasi, rasanya keberhasilan Korean Wave itu bisa menjadi contoh baik bagi para pebisnis industri kreatif dalam berkontribusi kepada daerahnya.

Konsep ‘Think Globally, Act Locally’ rasanya menjadi sejalan dengan idealisme dari penyelenggaraan Prambanan Jazz. Dengan mengandalkan kearifan lokal, harapannya festival ini bisa memberikan kontribusi positif dalam ikhtiar menggeliatkan potensi pariwisata di Kota Gudeg dan sekitarnya. Ketika sinergi itu semakin membaik, harapan besarnya tentu saja akan membuat Kota Yogyakarta semakin dicintai masyarakat domestik maupun global. Ketika cinta itu sudah tumbuh, di sanalah keinginan untuk berkunjung akan turut meningkat pula.

Inilah impian yang akan terus diraih dalam setiap kali penyelenggaraan Prambanan Jazz Festival dari tahun ke tahun. Sebuah mimpi yang tak akan pernah padam sebagaimana halnya Aristoteles berpesan agar setiap mahkluk yang bernyawa terus bermimpi guna meraih tujuan besarnya.

(tulisan pernah dimuat di harian Bisnis Indonesia edisi 17 Juni 2017)