20 & 21 Agustus 2016 | Candi Prambanan, Yogyakarta
20 & 21 Agustus 2016
Candi Prambanan, Yogyakarta

MENGHADIRKAN POLITIK BUDAYA INDONESIA

DI PRAMBANAN JAZZ

Oleh : Anas Syahrul Alimi
(Founder Prambanan Jazz & CEO Rajawali Indonesia Communication)

PADA 20 dan 21 Agustus 2016 nanti terhelat gelaran tahun kedua Prambanan Jazz: International Music Festival. Gelaran pertama diadakan pada Oktober 2015 dengan menghadirkan saxophonis dunia Kenny G. Prambanan Jazz. Bersyukur, debutan gelaran ini menulai sukses, memikat sekitar 5000 penonton dari target 2500 penonton.

Prambanan Jazz adalah event yang menggabungkan 2 mahakarya sekaligus. Mahakarya Candi Prambanan dan mahakarya musikdunia. Candi Prambanan merupakan karya jenius produk budaya asli negeri ini yang telah diakui dunia. Penggabungan keduanya tentunya bernilai strategis menjadi alat diplomasi bahwa Indonesia mempunyai local genius yang mendunia.

Prambanan Jazz akan hadir setiap tahun di Candi Prambanan. Dalam festival musik ini akan selalu menghadirkan mahakarya musisimusisi dunia dan musisi-musisi negeri sendiri. Event ini akan menjadi alternatif konser yang memiliki muatan budaya lokal dan global. Sesungguhnya, Prambanan Jazz ini menjadi perayaan event kebudayaan dan alat diplomasi budaya di kancah internasional.

Diplomasi Budaya

Harus kita akui basis kebudayaan di Indonesia telah lama mengalami penggerusan secara masif. Budaya lokal kita makin tenggelam seiring dengan pergeseran generasi. Untuk mengangkat daya saing budaya, kita butuh strategi diplomasi budaya.

Sejalan dengan perkembangan teknologi komunikasi dan informasi sekaligus migrasi global, politik diplomasi juga tidak hanya berlangsung pada level Goverment to Goverment.

Lebih dari itu, politik diplomasi ini perlu juga dilakukan antara Corporate to Corporate dan People to People (Wibisono, 2008). Framming dan branding budaya nasional melalui kebudayaan terus merupakan cara jitu dalam mengembangkan politik diplomasi budaya (John Tomlinson, 2003: 269).

Diplomasi budaya merupakan proses pertukaran ide-ide, informasi, karya seni dan berbagai jenis produk budaya antarnegara yang ditujukan agar masing-masing orang dalam negara tersebut memiliki kesaling pemahaman tentang budaya bangsa tersebut (Cummings, 2003:1).

Diplomasi budaya melibatkan aspek multi dimensi dari politik budaya internasional, melibatkan beragam kebijakan, inisiatif dan aktifitas yang dimaksudkan untuk mempromosikan kepentingan nasional. Karena itu, peran channel media internasional dalam mendukung kesuksesan diplomasi budaya sangat penting.

Dalam politik diplomasi, budaya merupakan kekuatan soft power. Budaya dalam kancah politik global telah menjadi arena pertarungan simbolik dalam proses imperialisme budaya. Diplomasi budaya konsen pada tiga hal, yaitu identitas budaya nasional, strategi dan kekuatan soft power, industri ekonomi kreatif. Ketiga faktor ini berperan penting dan harus saling mendukung satu sama lain.

Belajar Dari Kesuksesan K-Pop

Di Asia, K-Pop selama satu dasawarsa terakhir kian fenomenal. Kisah sukses K-Pop ini tidak lepas dari peran Pemerintah Korea dalam merancang strategi politik diplomasi budaya dalam payung besar ‘The Korean Wave’.

Pemerintah Korea tampaknya telah belajar dari proses Amerikanisasi budaya melalui medium budaya dan dunia televisi, dimana sejak tahun 1980-an, mereka telah berhasil menjadi imperium budaya dunia.

Mereka juga telah mempelajari bagaimana kesuksesan penetrasi budaya yang dilakukan oleh sejumlah negara lainnya. Sebutlah semacam India, Mesir, Meksiko dan Brasil yang melakukan penetrasinya melalui berbagai produk televisi seperti drama dan film.

Hingga pada akhirnya pemerintah Korea merumuskan Hallyuatau ‘The Korean Wave’ sebagai strategi penetrasi budaya melalui beragam media komunikasi dan informasi (Milim Kim, Keio Communication Review. No.33, 2011: 163).

Pemerintah Korea telah mampu menjadikan industri media dan budaya pop yang dimilikinya sebagai industri ekspor. Tiga produk budaya tersebut adalah film, drama TV dan musik pop dimana masing-masing produk budaya terbukti memiliki segmentasi audiens masing-masing (Chua Beng Huat, Malaysian Journal of Media Studies, Vol.12, No.1, 2010:15).

Peran para endorser juga tampak dominan dibalik kesuksesan K-Pop. Mereka menghasilkan produk drama, film, fashion dan beragam jenis produk budaya lainnya yang dipromosikan ke berbagai negara. Sue Jin Lee (2011:86) menyebutkan bahwa penetrasi budaya Korea telah berkembang sejak tahun 1997.

Peran media dan para pekerja media dilakukan melalui pengembangan produk media, seperti drama televisi, film, lagulagu pop dan promosi para selebriti. Langkah ini kian menjadikan K-Pop makin diterima dan populer di China, Taiwan, Hong Kong, dan sejumlah negara Asia Tenggara lainnya. Hal ini kemudian diikuti oleh popularitas produk-produk korea dan gaya hidup korea, termasuk dalam dunia fashion.

Pemberitaan tentang K-Pop yang dilakukan oleh televisi dan majalah bisnis juga mendukung popularitas K-Pop di berbagai belahan dunia. Pada tahun 2002, The Associated Press bulan Maret 2002 bahkan melaporkan bahwa masifnya K-Pop ini berdampak pada popularitas makanan dan musik, fashion dan gaya hidup kaum muda Korea.

Tidak hanya itu, K-Pop juga kian memasuki industri budaya Hollywood. Dalam catatan Hollywood Reporter, Korea bahkan telah mentransformasikan dirinya dari sekadar pasar film global menjadi tuan rumah dan produsen film dengan wilayah pasar Negara-Negara Asia (Doobo Shim, 2006: 26).

Meningkatnya apresiasi masyarakat internasional terhadap budaya korea berdampak positif bagi citra Pemerintah Korea. Image Korea cenderung dipandang negatif karena steorityping negatif akibat perang Korea Selatan.

Image negatif ini mampu terdegradasi karena keberhasilan para pekerja budaya dan dukungan teknologi komunikasi dalam menyebarluaskan budaya korea melalui drama dan film ke berbagai belahan dunia (Doobo Shim, 2006:26).

PM Jepang bahkan pernah berseloroh bahwa popularitas bintang-bintang Korea di Jepang jauh melebihi dirinya. Hal yang lebih menakjubkan lagi, Korea telah berhasil melakukannya dengan kebanggaan atas bahasanya tanpa harus mengubah dengan mentranslate ke bahasa asing lainnya.

Lantas mengapa budaya Korea, India dan China pelan-pelan mewabah di Indonesia? Apakah karena budaya mereka lebih hebat dibandingkan budaya negaranegara lainnya di dunia? Tentu tidak. Setiap budaya memang memiliki keunggulan. Pada dasarnya semua budaya memiliki posisi yang setara.

Hal yang membedakan adalah bagaimana sebuah budaya tersebut kian dikenal, diakui bahkan diadaptasi oleh masyarakat di negara lain karena membawa mimpi nilai-nilai baru yang menjanjikan.

Budaya Korea, India dan China kian melambung di berbagai belahan dunia karena keberhasilan strategi politik diplomasi budaya yang telah lama dirancang dan dijalankan oleh pemerintah Korea, India, dan Cina.

Bagaimana dengan Indonesia? Celakanya Indonesia justru menjadi obyek dari kolonialisasi budaya seperti Amerikanisasi dan Koreanisasi budaya, termasuk K-Pop. Tentu kita tidak perlu meniru trend budaya K-Pop dan produk-produk budaya Korea.

Hal yang lebih penting untuk kita pelajari adalah bagaimana semangat dan strategi politik diplomasi budaya mereka bisa secara sukses mendunia.

Sungguh menyedihkan jika Indonesia yang mewarisi ribuan bahkan jutaan budaya lokal hanya menjadi pasar atau pembeo industri budaya global. Kita memiliki Kementerian Pariwisata, Badan Ekonomi Kreatif, Kementerian Luar Negeri, dan Kementerian BUMN. Keempat lembaga kementerian ini tampaknya perlu menunjukkan terobosan jitu dalam membangun politik diplomasi budaya.

Untuk itu, tampaknya sangat penting dibentuk lembaga baru yang mampu mewujudkan dan menjadikan industri budaya sebagai kekuatan baru dalam memperkuat branding nasional dan menjadikan industri budaya di negara ini sebagai kekuatan baru dalam politik diplomasi.

Bukan hanya itu, untuk mewujudkan nawacita Presiden Jokowi, semua pihak harus bahu membahu mewujudkan cita-cita ini.

Rick Price Yura Yunita Boyz II Men Trio Lestari Glenn Fredly DR & The Professor
feat. Sruti
Kahitna
Raisa Marcell Everyday
Mocca KrakatauReunion Shaggy Dog
Tulus Rio Febrian Dinno Alshan